STUM, MISTERI YANG TAK TERPECAHKAN



stum pabrik gula Djati - deskgram.net


Kakek Parmin adalah salah satu tetua yang ada di desa kami. Beliau mendapat julukan kakek misterius dari orang-orang Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Julukan itu diterimanya karena beliau paham betul dengan sejarah di desa kami, yaitu stum. Sosok yang menjadi idola saat para pelancong ingin melihat dan mendengar sejarah singkat tentang stum. Termasuk aku sendiri, walaupun sering mendengarkan cerita tentang stum, namun bila Kakek Parmin yang bercerita, suasana seperti tampak berbeda.
Sebenarnya stum pada jaman dahulu dikenal dengan cerobong asap kuno. Dahulu di desa ini pernah berdiri sebuah pabrik gula. Ukuran stum bawah 5x5 meter, dengan ketinggian sekitar 30-40 meter, terbuat dari batu bata yang sangat kuat dengan tambahan perekat tetes tebu, sehingga masyarakat sekitar tidak mampu membongkar dan dibiarkan tetap kokoh berdiri.
Warga sekitar juga sempat memasang poster unik di tepi utara lahan. Poster memuat gambar wajah sosok Belanda jaman lampau, yang disebut-sebut bernama WM Van Den Boumen. Menurut cerita, Van Den Boumen adalah pemilik pabrik gula jaman kolonial bernama Pabrik Gula Djatie.
Saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda, Van Den Boumen adalah salah satu direktur NV Maatschapij Tot Exploitatie Van de Soikeronder Djati, perusahaan Belanda yang mendirikan Pabrik Gula Djatie pada 1898.
Lahan kosong seluas sekitar 11,8 hektar di desa itu dahulu adalah komplek pabrik besar yang penuh dengan bangunan. Namun pada tahun 1949, saat terjadi agresi militer Belanda di Indonesia, sebagian besar bangunan pabrik gula itu dihancurkan oleh pasukan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beliau menggempur dari markas persembunyian di Hutan Wilis, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.
Serangan itu dilakukan bukan tanpa alasan, karena selama beberapa hari Soedirman bergerilya di Nganjuk, beliau dan pasukannya berhasil mendeteksi bahwa ternyata komplek Pabrik Gula Djatie saat itu digunakan sebagai markas komando militer terselubung serdadu Belanda. Pasukan Soedirman lalu melakukan serangan mendadak dini hari, yang membuat ratusan tentara Belanda kocar kacir. Pasukan Soedirman menggempur memakai senapan api dan meriam yang dirampas dari penjajah.
Serangan fatal itu membuat ratusan nyawa melayang dan pertumpahan darah hebat dari kedua kubu. Nyaris seluruh komplek bangunan Pabrik Gula Djatie luluh lantak, kecuali sebuah cerobong asap yang sampai hari ini masih berdiri kokoh.
Cerobong itu sempat beberapa kali terkena serangan peluru meriam pasukan Soedirman, tetapi tidak sampai roboh. Sampai sekarang masih ada bekas lubang dan retakan dinding cerobong bagian atas kena hantaman peluru meriam.
Tak bosan-bosannya Kakek Parmin menceritakan sejarah itu pada kami. Sampai kami hafal betul kapan Kakek Parmin beraksi dengan mata yang membelalak dan aksi yang lucu, karena gigi beliau yang sudah hampir tanggal semua. Ketawa yang khas dari beliau seperti ingin mendapatkan cerita-cerita yang segar pada masa lalu. Beliau berjanji pada kami, yang mendapat julukan sang petualang cilik, untuk menceritakan misteri stum yang lain. Pertanyaan yang terkesan memberondongpun tak dihiraukan oleh Kakek Parmin. “Yen aku janji sesuk anggonku cerito, yo sesuk,” timpal beliau sambil meninggalkan kami dengan beribu pertanyaan yang berkecamuk di kepala.

***

Hamparan sawah yang hijau membentang di depan mata, membuat panorama sore itu tampak sangat memesona.  Aku dan ketiga sahabatku menunggu Kakek Parmin sambil bersenandung lagu kreasi si Panjul, sambil sesekali cekikikan sendiri karena belum hafal liriknya. Gitar yang menemanipun sepertinya enggan bersahabat pula pada kami. Lengkap sudah, hanya senyum yang bisa kami sunggingkan saat berpapasan dengan para pengguna jalan yang lewat.
Penantian kami akhirnya berakhir, saat sepeda tua melintasi kami sambil melepas topi capilnya. Sontak kami menghampiri Kakek Parmin sambil bergegas bersalaman dengan beliau.
“Kok dangu, Kung?” tanyaku sambil menyandarkan sepeda tua itu pada pohon tinggi yang berada di tengah jalan.
“Hmmm…” Hanya itu yang keluar dari mulut Kakek Parmin. Beliau membawa tas panjang yang aku sendiri tidak tahu apa gerangan isinya. Diletakkan tas hitam itu tepat di samping beliau duduk. Rasa penasaran kami sepertinya terlihat juga di mata beliau.
“Engko yo eruh, arep tak gawe opo iki,” lanjut beliau sambil menunjuk tas yang berwarna hitam. Aku dan ketiga sahabatku hanya mengangguk tanda mengerti.
Kakek Parmin ingat akan janjinya pada kami. Beliau mulai menceritakan sisi lain dari stum. Bangunan ini pernah dijadikan tempat untuk reality show misteri. Tepatnya acara TV yang diberi judul Uka-uka. Sontak membuat mata kami terbelalak karena pasti akan menjadi cerita yang menarik pada sore kali ini. Acara ini mungkin bagi kami sewaktu masih kecil hanya sebagai penghibur saja, namun sekarang kami telah beranjak remaja, cerita ini semakin membuat bulu kuduk kami berdiri saat Kakek Parmin mulai menceritakan kembali. Panjul yang sedari tadi menyentuh gitar kesayangannya berusaha semakin mendekap benda tak bernyawa itu di dadanya, seakan dia tahu bahwa cerita ini benar-benar nyata.
Cerita ini diawali dengan tembang Jawa yang khas dari Kakek Parmin. Kami yang asli orang Jawa merasa asing dengan tembang ini. Namun suara khas Kakek Parmin membuat kami terlena dan terhipnotis. Selama ini banyak orang yang belum bisa menaklukkan stum. Acara Uka-Uka pun belum pernah berhasil. Konon katanya ada “Penghuni” yang tidak bisa diajak kerjasama. “Orang pintar” juga belum mampu mengajak makhluk itu untuk berbicara. Percaya atau tidak, penghuni sesungguhnya yang berada di dalam stum adalah seekor naga yang sangat besar.
Mata yang merah dengan lidah yang selalu menjulur keluar menambah aroma tajam sang makhluk ini, semakin terlihat menyeramkan. Kami sampai berpegangan erat tatkala Kakek Parmin mengatakan ada seseorang yang pernah nekad untuk menaklukkan stum. Orang tersebut sepertinya mempunyai nyali yang cukup tinggi, namun saat sudah memasuki ruangan dasar stum, orang tersebut sudah tidak sadar dan dibawa ke rumah penduduk terdekat. Kami yang duduk tidak berjauhan dengan stum seakan terbawa cerita mistik ini. Stum hanya bisa kami lihat dari kejauhan, kami belum pernah mendekat apalagi masuk ke area yang terbuka bebas untuk sekedar melihat dari dekat.
Entah apa yang terjadi saat itu pada diriku. Tiba-tiba saja langkah kakiku terasa ringan berjalan ke arah stum. Aku yang sedari tadi duduk mendengarkan cerita Kakek Parmin, bergegas meninggalkan beliau dan ketiga sahabatku. Kuucapkan salam sekeras-kerasnya menandakan aku meminta ijin pada penghuni yang berada di stum, agar aku diijinkan masuk ke lokasi tersebut. Seketika tubuhku terasa kaku, badanku seakan sulit untuk digerakkan, dan napasku begitu sesak. “Ya Allah, apa yang terjadi pada diriku, apakah ia tidak mau diganggu hari ini,” ucapku lirih hampir tak terdengar, bahkan olehku. “Tolong, aku hanya ingin melihat dari dekat apa yang ada di ruangan ini, aku tidak akan mengganggu tidurmu dan tempat tinggalmu!” Lanjutku dengan suara sekencang-kencangnya karena sepertinya hidupku akan berakhir di sini.
Makhluk tak terlihat itu tetap saja membalut tubuhku dan semakin keras saja. Lalu, tiba-tiba makhluk itu memunculkan wajah yang sesungguhnya. Makhluk yang lebih seram dari gambar-gambar naga yang pernah aku lihat di TV atau di majalah. Tak kuat aku berada di dalam area stum ini, sehingga aku berusaha mengeluarkan seluruh energiku untuk berteriak, “Kung, tulung kulo kung, kulo badhe medhal saking stum niki, kulo ajreh, kunggg!”
Tamparan yang mendarat di pipi dan badan yang digoncangkan membuat tubuhku terasa sakit dan aku terbangun dari mimpiku.
“We lha dalah. Kok yo wis ngimpi Naga to kowe iki,” kata Panjul meledekku.
Ternyata yang terjadi sore ini hanyalah mimpi yang aku alami. Napas yang tersengal-sengal dan keringat yang hampir membasahi seluruh tubuhku, terbasuh dengan segelas minuman yang diberikan Kakek Parmin padaku. “Oh segarnya.”
Tas hitam yang menjadi pertanyaan kami ternyata sebuah kertas gambar dilengkapi dengan alat melukis. Ternyata aku terlena dengan lukisan Kakek Parmin yang melukis naga dengan sangat indahnya, sampai-sampai aku bermimpi bertemu dengan penghuni stum yang sesungguhnya. Kisah ini akan tetap menjadi legenda, apakah makhluk itu benar-benar ada, akupun hanya bisa pasrah karena jujur saja mimpi yang baru saja aku alami seakan benar-benar nyata tepat berada di depan mataku.

***

Nganjuk yang lebih dikenal dengan kota Angin memang banyak menyuguhkan panorama dan tempat wisata yang unik, salah satunya adalah stum ini. Kisah yang sampai sekarang belum bisa kami temukan jawabannya. Legenda yang akan tetap menjadi kudapan untuk anak cucu di masa datang.
Adakah dari kalian yang ingin mencoba masuk ke dalam stum?

[Ana/0219]

Catatan:
Stum = cerobong pembuangan asap di pabrik gula. Sebagian orang menyebutnya setum, setun.

TENTANG PENULIS



Ana Diana Farah Dini, S.Psi, M.Pd
Lulusan S2 PAUD dari Universitas Negeri Surabaya, Ibu dengan satu anak ini mengajar di TK Muslimat NU Khadijah I yang ada di Nganjuk.
Berusaha meluangkan waktu untuk menulis dan menjadikannya terapi harian, bukan beban yang terus dikejar deadline. Menulis untuk menebar kebaikan yang tak selalu disuarakan. Motto penulis “Membaca dan menulis membuatmu bernyawa”. Karena penulis ingin melahirkan karya dan tulisan yang bisa dibaca dan bermanfaat bagi pembaca.

7 komentar untuk "STUM, MISTERI YANG TAK TERPECAHKAN"

Comment Author Avatar
Semakin keren tulisannya Bu Ana. Berkarakter ^^
Comment Author Avatar
Bu Ana aku punya kenalan disitu yang hafal bener tentang stum itu, namanya Pak Yosef Bambang (Kejaksaan) rumahnya di bekas komplek pabrik gula itu, Bu.
Comment Author Avatar
Kakek buyut saya salah satu orang yang ada dalam anggota belanda dulu.tapi saya kurang tau cerita jelasnya ,namanya pak kimin salah satu montir belanda di jatie