1089 Tahun Nganjuk: Menakar Arah Budaya Sastra dan Literasi di Bumi Anjuk Ladang

 


Oleh: Heru Sang Amurwabumi

 

Prasasti dan Akar Identitas

Bagi masyarakat Nganjuk, tahun 937 Masehi adalah titik mula identitas añjukladaŋ atau Tanah Kemenangan dipahat di atas batu andesit. Prasasti añjukladaŋ menjadi bukti bahwa sejak milenium pertama, masyarakat di lembah antara Gunung Wilis dan Pegunungan Kendeng Utara ini telah mengenal budaya literasi tingkat tinggi. Penggunaan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuno yang terstruktur dalam prasasti tersebut menunjukkan adanya tatanan sosial yang mapan, di mana intelektualitas digunakan untuk melegitimasi kemenangan militer dan anugerah swatantra dari Raja Mpu Sindok.

Prasasti añjukladaŋ mencerminkan ketajaman berpikir leluhur yang mampu mengabadikan peristiwa melalui tradisi tulis yang presisi. Di masa itu, literasi adalah simbol sebuah instrumen kekuasaan dan peradaban yang membedakan masyarakat maju dengan yang tidak. Kemenangan yang dirayakan dalam Prasasti añjukladaŋ adalah kemenangan atas ketidaktahuan, sebuah manifestasi dari masyarakat yang menghargai dokumentasi dan hukum. Namun, seiring berjalannya waktu, pusaka intelektual ini menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih kompleks daripada perang di masa klasik.

Setelah melampaui 1089 tahun perjalanan sejarah yang panjang, kini muncul sebuah pertanyaan eksistensial yang krusial: di manakah posisi budaya sastra dan literasi Nganjuk di tengah gemuruh digitalisasi abad ke-21? Di era saat informasi mengalir deras namun dangkal, semangat añjukladaŋ (tanah kemenangan—ladang lumbung pangan) sedang diuji oleh arus teknologi. Apakah kemenangan itu masih bersemi dalam bentuk gagasan yang kritis dan kreatif pada generasi muda Nganjuk, ataukah ia telah melumat menjadi artefak yang membisu di sudut museum?

 

Indeks Literasi

Secara statistik, potret literasi di Nganjuk tidak dapat dilepaskan dari kondisi makro di Jawa Timur. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), meski akses terhadap bahan bacaan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah perpustakaan desa dan taman baca, kualitas kedalaman literasi masyarakat masih memerlukan akselerasi yang signifikan. Perpustakaan Nasional RI (2023) mencatat bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada ketersediaan fisik buku, tetapi terletak pada budaya baca yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan produktif. Di Nganjuk, kesenjangan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan dalam mengakses literasi digital menjadi variabel yang menentukan arah kebijakan pendidikan (nonformal) ke depan.

Kesenjangan ini sering kali menyebabkan rendahnya daya kritis masyarakat terhadap informasi yang beredar. Meskipun dalam konteks sosial-budaya, masyarakat Nganjuk memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi lisan yang turun-temurun. Tantangannya adalah bagaimana mentransformasikan tradisi lisan tersebut ke dalam bentuk literasi tulis yang terdokumentasi dengan baik, sehingga tidak lekang digerus zaman.

 

Kiprah Komunitas sebagai Jantung Literasi di Akar Rumput

Di tengah keterbatasan birokrasi, komunitas literasi independen hadir sebagai oase. Komunitas-komunitas literasi dan sastra di Nganjuk berperan menjadi tempat berkumpulnya para pembaca, juga menjelma menjadi laboratorium kreatif. Mereka bergerak dengan semangat swadaya, mendirikan taman baca di pelosok desa, hingga menyelenggarakan berbagai kelas menulis berbasis komunitas tersebut. Fenomena ini sejalan dengan pandangan Sutopo (2022) yang menyatakan bahwa transformasi budaya lokal dalam gerakan literasi masyarakat sangat bergantung pada agensi kelompok-kelompok kecil yang memiliki kedekatan emosional dengan lingkungannya.

Kiprah komunitas-komunitas literasi dan sastra ini tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca, namun juga merambah pada produksi karya sastra. Terbitnya buku karya-karya penulis lokal Nganjuk menunjukkan adanya upaya untuk menghidupkan kembali estetika lokalitas yang adiluhung dalam konteks sastra Indonesia modern. Gerakan ini membuktikan bahwa literasi di Nganjuk memiliki karakter yang khas, yakni literasi yang berbasis pada penggalian nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal.

 

Peran Pemerintah dan Sinergi Struktural

Pemerintah Kabupaten Nganjuk harus menyadari bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur pemikiran. Perhatian terhadap pelestarian naskah kuno dan penyelenggaraan festival literasi berskala daerah merupakan langkah progresif. Namun, seperti yang ditegaskan oleh Nugroho (2021), keberhasilan sebuah gerakan literasi di daerah sangat ditentukan oleh integrasi kebijakan antara sektor pendidikan, kebudayaan, dan teknologi informasi. Perlu adanya sinkronisasi yang lebih erat agar program-program literasi pemerintah tidak terjebak pada aspek seremonial. Program-program itu harus bisa menyentuh esensi substansial dari kebutuhan para pegiat di lapangan.

Modernisasi perpustakaan desa dan taman baca melalui digitalisasi data di berbagai sektor di Nganjuk secara tidak langsung ikut mendorong masyarakat untuk lebih melek literasi digital. Ketika data menjadi basis dalam pengambilan keputusan, maka kemampuan literasi data menjadi kompetensi wajib yang harus dimiliki oleh setiap warga, mulai dari perangkat desa hingga pelaku industri makanan yang menjadi penopang ekonomi daerah.

 

Sastra sebagai Cermin Kemanusiaan

Sastra di Nganjuk merupakan cermin dari pergulatan hidup masyarakatnya. Melalui sastra, nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan harmoni, seperti yang tersirat dalam perayaan Hari Jadi ke-1089 dapat ditanamkan lebih dalam ke perilaku masyarakat. Widayanto (2025) menekankan bahwa menghidupkan aksara di °iy-añjukladaŋ adalah upaya untuk memanusiakan manusia, di mana sastra menjadi jembatan emosional yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan cita-cita masa depan.

Dalam konteks global, sastra lokal Nganjuk memiliki potensi untuk memberikan warna pada khazanah sastra nasional. Pengangkatan tema-tema lokalitas seperti sejarah Nganjuk atau legenda Wayang Timplong ke dalam narasi sastra modern merupakan bentuk perlawanan terhadap penyeragaman budaya global. Inilah yang disebut sebagai literasi emansipatoris, yakni kemampuan masyarakat untuk menceritakan dirinya sendiri kepada dunia.

 

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Memasuki usia yang semakin senja namun tetap bugar, Nganjuk menghadapi tantangan besar berupa disrupsi informasi. Menurut analisis Wardana (2024), di era pasca-kebenaran, peran literasi sastra menjadi krusial untuk mengasah empati dan daya kritis, sehingga masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi palsu yang memecah belah kerukunan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan media menjadi kunci utama untuk menjaga api literasi tetap menyala.

Masyarakat Nganjuk harus memandang literasi bukan sebagai beban kurikulum, tetapi sebagai gaya hidup. Dengan demikian, kalimat sakti pada perayaan Hari Jadi Nganjuk ke-1089, "Harmoni Bumi Anjuk Ladang, Melesat dan Sejahtera" tidak akan menjadi slogan kosong. Kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai apabila masyarakatnya memiliki kedalaman berpikir, kekayaan imajinasi, dan ketajaman budi yang semuanya berakar pada budaya literasi yang kokoh.

1089 tahun adalah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa Nganjuk adalah tanah yang tangguh. Namun, sejarah tidak boleh hanya berhenti sebagai bahan nostalgia di setiap tanggal 10 April. Sejarah harus menjadi bahan bakar untuk melesat maju. Budaya sastra dan literasi adalah kendaraan utama dalam perjalanan tersebut. Dengan menjaga spirit Jayastamba, mari kita pahat kembali kemenangan-kemenangan baru melalui tulisan, melalui diskusi, dan melalui kecintaan yang tak kunjung padam terhadap ilmu pengetahuan. Biarlah aksara-aksara dari Bumi Anjuk Ladang terus bergema, melintasi batas ruang dan waktu, membawa pesan harmoni sastra bagi dunia.

Dirgahayu Nganjuk 1089 Tahun. (*)

 

Penulis adalah pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk, TBM Sanggar Omah Sastra, Rumah Budaya Sanggar Punakawan, Penerbit Anjuk Publisher, dan media sastra daring literasinganjuk.com. Tulisannya telah mewarnai berbagai media massa, menjadi penulis emerging Indonesia di festival sastra internasional, Ubud Writers and Readers Festival 2019.

 

Daftar Pustaka

  • Nugroho, R. (2021). Kebijakan Publik dan Dinamika Literasi Daerah di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Perpustakaan Nasional RI. (2023). Laporan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Provinsi Jawa Timur. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  • Sutopo, A. B. (2022). Transformasi Budaya Lokal dalam Gerakan Literasi Masyarakat di Jawa Timur. Jurnal Kebudayaan dan Sastra Nusantara, 8(2), 115-128.
  • Wardana, H. K. (2024). Literasi di Era Disrupsi: Tantangan Masyarakat Urban dan Sub-Urban. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Widayanto, H. (2025). Menghidupkan Aksara di Tanah Kemenangan: Dinamika Komunitas Literasi Nganjuk. Nganjuk: Pustaka Anjuk Ladang.

Posting Komentar untuk "1089 Tahun Nganjuk: Menakar Arah Budaya Sastra dan Literasi di Bumi Anjuk Ladang"