Puisi-puisi Suci Ashdan
Sepatu Bola dan Ransel
yang Kebesaran
Di bahunya yang kecil,
sebuah ransel berayun malas
Membawa buku perkalian
dan mimpi yang mulai mekar
Anak laki-lakiku
berjalan menuju pintu kelas
Meninggalkan jejak
sepatu yang sisa tanahnya belum pudar
Dunia sekolahnya
adalah samudera tanpa tepian
Tempat ia belajar
menangkap angka dan menjinakkan kata
Kadang ia pulang
dengan lutut lecet dan baju penuh coretan
Serupa prajurit kecil
yang baru saja menaklukkan kota
Ia senang bercerita
tentang gol yang hampir saja tercipta
Atau tentang pensil
warna yang patah saat menggambar
Aku menyaksikan sorot
matanya yang menyimpan semesta
Mencari-cari jawaban
di antara rasa ingin tahu yang sabar
Tumbuhlah dengan
gagah, wahai pemilik tawa yang riuh
Jangan biarkan dunia
memadamkan cahaya di keningmu
Meski jalan hidup yang
kau tempuh mungkin akan membuatmu mengeluh
Namun, Ibu adalah
pelabuhan, tempatmu pulang membawa rindu
Ciwidey, 26 April 2026
Di ranjang ini, kita
adalah dua paragraf yang berbeda
Saling menyusun alinea
di bawah selimut yang sama
Kau menyimpan dengkur
sebagai nyanyian lelah
Sementara aku membaca
garis-garis di keningmu, sebuah petajejak tabah
Kita bukan lagi
sepasang angsa di atas kolam tenang
Sebab dapur lebih
sering riuh oleh tagihan yang datang
Namun di antara aroma
bawang dan sisa kopi pagi
Ada janji yang lebih
kuat dari sekadar sumpah di atas jari
Dulu, aku mengira kita
akan selalu jadi kembang api
Namun kini aku tahu,
kita adalah bara di tungku tua
Tak lagi perlu ledakan
untuk tetap menghangatkan
Hanya butuh sepasang
tangan yang tak pernah saling melepaskan
Mencintaimu adalah
belajar memaklumi retakan-retakan di dinding
Bersama-sama mencari
semen untuk menambalnya
Kita adalah dua buruh
yang membangun istana dari sabar
Di dunia yang sering
kali membuat napas kita bergetar
Ciwidey, 26 April 2026
Di bawah lampu gantung
yang mulai redup
Ayah menyendok nasi
dengan sisa tenaga
Ada aroma keringat
yang menjelma doa
Menguap pelan di sela
kepul sayur nangka
Ibu adalah juru mudi
paling tabah
Tangannya yang kasar
adalah peta pengabdian
Mengiris bawang dengan
mata yang tak pernah basah
Meski di dadanya, riuh
badai sedang berkejaran
Kami duduk melingkar
merawat sunyi
Hanya denting sendok
yang beradu piring
Menghitung hari-hari
yang lari ke persembunyian
Sambil menenun tawa
yang mulai mengering
Di rumah ini, cinta
tak butuh pidato
Dia hanya butuh pintu
yang selalu terbuka
Serta sepasang telinga
yang bersedia mendengar
Rangkuman letih
setelah seharian bertarung nyawa
Ciwidey, 26 April 2026
Kisah di Balik Ruang Kelas
Baling-baling di
langit-langit menampar udara
Suaranya parau,
berebut ruang dengan kapur tulis
Di depan sana, dia
berdiri tegak memahat cahaya
Menghapus gelap di
kening murid yang nyaris habis
Suaranya adalah
jembatan menuju masa depan
Mengeja alfabet yang
kadang terasa seperti duri
Dia membagi mimpi
dalam potongan-potongan kecil
Agar mudah dicerna mereka
yang hampir patah hati
Tangannya berdebu
putih, serupa awan di siang hari
Menuliskan angka-angka
yang menolak jadi misteri
Meski di saku bajunya,
tagihan listrik menumpuk
Dia tetap tersenyum,
seolah dunia tak pernah suntuk
Dia adalah lilin yang kakinya
dipaku pada lantai
Membakar diri agar
ruang kelas tak lagi buta
Hingga saat bel pulang
mengakhiri segala ramai
Dia pulang membawa
sepi dalam tas kulit usangnya yang hampa
Ciwidey, 26 April 2026
Ritual Rindu
Di dapur ini, aromamu
masih betah bermukim
Menyelinap di sela
gorden kusam yang mulai kehilangan warna
Sering kali aku gagap
mengeja sepi di balik pintu
Lupa bahwa tak ada
lagi teh hangat yang kautuang bersama doa.
Suara lembutmu kini
menetap menjadi penghuni dinding-dinding sunyi
Menjelma berupa derit
kayu atau sekadar gemercik air di pagi hari
Aku mencoba meniru
caramu meracik bumbu rahasia
Namun, rindu ini
selalu lebih getir dari garam yang kutabur di atas masakan.
Di dadaku, ada gelas
yang jatuh tanpa suara
Pecahannya serupa
kenangan yang tak sanggup kusapu hingga rata
Setiap kali hujan
mengetuk jendela
Kulihat bayangmu
sedang tekun merangkai kembali waktu yang patah
Kau adalah buku dengan
bab pamungkas yang belum usai kukhatamkan
Halamannya kini hanya
bisa kusentuh lewat doa dan ingatan yang tersisa
Meski rumah kini telah
bersalin rupa dan cahaya
Ibu, kaulah muara
pertama tempatku pulang, meski jalan tak lagi sama.
Ciwidey, 26 April 2026
***
Suci Asdhan, penulis muda potensial yang berbasis di Ciwidey, Jawa Barat
Karya-karyanya sering kali mengangkat tema ketabahan dan cinta yang tidak muluk-muluk, menyiratkan bahwa kasih sayang sering kali mewujud dalam bentuk-bentuk sederhana. Dengan gaya bahasa yang puitis namun tetap membumi, Suci mengeksplorasi konsep pulang, baik kepada sosok Ibu sebagai pelabuhan rindu, maupun kepada kehangatan bara di tungku tua dalam sebuah hubungan.

Posting Komentar untuk "Puisi-puisi Suci Ashdan"
Posting Komentar