Puisi-puisi Suci Ashdan

 




Sepatu Bola dan Ransel yang Kebesaran


Di bahunya yang kecil, sebuah ransel berayun malas

Membawa buku perkalian dan mimpi yang mulai mekar

Anak laki-lakiku berjalan menuju pintu kelas

Meninggalkan jejak sepatu yang sisa tanahnya belum pudar

 

Dunia sekolahnya adalah samudera tanpa tepian

Tempat ia belajar menangkap angka dan menjinakkan kata

Kadang ia pulang dengan lutut lecet dan baju penuh coretan

Serupa prajurit kecil yang baru saja menaklukkan kota

 

Ia senang bercerita tentang gol yang hampir saja tercipta

Atau tentang pensil warna yang patah saat menggambar

Aku menyaksikan sorot matanya yang menyimpan semesta

Mencari-cari jawaban di antara rasa ingin tahu yang sabar

 

Tumbuhlah dengan gagah, wahai pemilik tawa yang riuh

Jangan biarkan dunia memadamkan cahaya di keningmu

Meski jalan hidup yang kau tempuh mungkin akan membuatmu mengeluh

Namun, Ibu adalah pelabuhan, tempatmu pulang membawa rindu


Ciwidey, 26 April 2026

 

 ***

 

 Di Balik Pintu yang Kita Kunci Berdua


Di ranjang ini, kita adalah dua paragraf yang berbeda

Saling menyusun alinea di bawah selimut yang sama

Kau menyimpan dengkur sebagai nyanyian lelah

Sementara aku membaca garis-garis di keningmu, sebuah petajejak tabah

 

Kita bukan lagi sepasang angsa di atas kolam tenang

Sebab dapur lebih sering riuh oleh tagihan yang datang

Namun di antara aroma bawang dan sisa kopi pagi

Ada janji yang lebih kuat dari sekadar sumpah di atas jari

 

Dulu, aku mengira kita akan selalu jadi kembang api

Namun kini aku tahu, kita adalah bara di tungku tua

Tak lagi perlu ledakan untuk tetap menghangatkan

Hanya butuh sepasang tangan yang tak pernah saling melepaskan

 

Mencintaimu adalah belajar memaklumi retakan-retakan di dinding

Bersama-sama mencari semen untuk menambalnya

Kita adalah dua buruh yang membangun istana dari sabar

Di dunia yang sering kali membuat napas kita bergetar


Ciwidey, 26 April 2026

 

 ***

 

 Di Meja Makan yang Sama


Di bawah lampu gantung yang mulai redup

Ayah menyendok nasi dengan sisa tenaga

Ada aroma keringat yang menjelma doa

Menguap pelan di sela kepul sayur nangka

 

Ibu adalah juru mudi paling tabah

Tangannya yang kasar adalah peta pengabdian

Mengiris bawang dengan mata yang tak pernah basah

Meski di dadanya, riuh badai sedang berkejaran

 

Kami duduk melingkar merawat sunyi

Hanya denting sendok yang beradu piring

Menghitung hari-hari yang lari ke persembunyian

Sambil menenun tawa yang mulai mengering

 

Di rumah ini, cinta tak butuh pidato

Dia hanya butuh pintu yang selalu terbuka

Serta sepasang telinga yang bersedia mendengar

Rangkuman letih setelah seharian bertarung nyawa


Ciwidey, 26 April 2026

 

***

 

Kisah di Balik Ruang Kelas


Baling-baling di langit-langit menampar udara

Suaranya parau, berebut ruang dengan kapur tulis

Di depan sana, dia berdiri tegak memahat cahaya

Menghapus gelap di kening murid yang nyaris habis

 

Suaranya adalah jembatan menuju masa depan

Mengeja alfabet yang kadang terasa seperti duri

Dia membagi mimpi dalam potongan-potongan kecil

Agar mudah dicerna mereka yang hampir patah hati

 

Tangannya berdebu putih, serupa awan di siang hari

Menuliskan angka-angka yang menolak jadi misteri

Meski di saku bajunya, tagihan listrik menumpuk

Dia tetap tersenyum, seolah dunia tak pernah suntuk

 

Dia adalah lilin yang kakinya dipaku pada lantai

Membakar diri agar ruang kelas tak lagi buta

Hingga saat bel pulang mengakhiri segala ramai

Dia pulang membawa sepi dalam tas kulit usangnya yang hampa


Ciwidey, 26 April 2026

 

*** 

 

Ritual Rindu


Di dapur ini, aromamu masih betah bermukim

Menyelinap di sela gorden kusam yang mulai kehilangan warna

Sering kali aku gagap mengeja sepi di balik pintu

Lupa bahwa tak ada lagi teh hangat yang kautuang bersama doa.

 

Suara lembutmu kini menetap menjadi penghuni dinding-dinding sunyi

Menjelma berupa derit kayu atau sekadar gemercik air di pagi hari

Aku mencoba meniru caramu meracik bumbu rahasia

Namun, rindu ini selalu lebih getir dari garam yang kutabur di atas masakan.

 

Di dadaku, ada gelas yang jatuh tanpa suara

Pecahannya serupa kenangan yang tak sanggup kusapu hingga rata

Setiap kali hujan mengetuk jendela

Kulihat bayangmu sedang tekun merangkai kembali waktu yang patah

 

Kau adalah buku dengan bab pamungkas yang belum usai kukhatamkan

Halamannya kini hanya bisa kusentuh lewat doa dan ingatan yang tersisa

Meski rumah kini telah bersalin rupa dan cahaya

Ibu, kaulah muara pertama tempatku pulang, meski jalan tak lagi sama.


Ciwidey, 26 April 2026


***


Suci Asdhan, penulis muda potensial yang berbasis di Ciwidey, Jawa Barat. Melalui puisi-puisinya yang ditulis pada April 2026, ia menunjukkan kepekaan mendalam dalam memotret realitas keseharian, mulai dari dinamika dunia sekolah anak-anak hingga perjuangan keluarga di balik pintu rumah.

Karya-karyanya sering kali mengangkat tema ketabahan dan cinta yang tidak muluk-muluk, menyiratkan bahwa kasih sayang sering kali mewujud dalam bentuk-bentuk sederhana. Dengan gaya bahasa yang puitis namun tetap membumi, Suci mengeksplorasi konsep pulang, baik kepada sosok Ibu sebagai pelabuhan rindu, maupun kepada kehangatan bara di tungku tua dalam sebuah hubungan.

Posting Komentar untuk "Puisi-puisi Suci Ashdan"