Manusia Gorong-gorong
Saat
musim hujan tiba, ia menjadi manusia paling sibuk di Kota Mata Air.
Panggilan-panggilan darurat akan dialamatkan kepadanya setiap waktu. Tak peduli pagi, siang,
sore, bahkan tengah malam pun ia akan menerima panggilan darurat itu. Jelas,
namanya darurat, tanpa harus dipaksa ia akan berangkat menuju lokasi panggilan saat itu juga.
Panggilan-panggilan
darurat itu baru muncul
kira-kira dua tahun terakhir ini. Panggilan
yang membuat namanya semakin mmenjadi buah bibir di seluruh
penjuru Kota Mata Air. Bisa dipastikan, namanya akan menjadi
rujukan ketika hujan turun, air
meluber ke mana-mana, dan banyak orang
membutuhkan keberadaannya.
“Kenapa
kota kita menjadi langganan banjir seperti ini ya, Pak?”
“Entahlah, Buk. Bapak juga baru sadar tempat
tinggal kita menjadi tak nyaman ketika musim hujan. Banyak air yang bertamu di
rumah kita.”
“Sepertinya
kalau hujan tak juga berhenti sejak sore tadi. Malam ini kita harus bersiaga
untuk menyelematkan diri dan harta benda kita, Buk.”
“Ibuk
akan menemani bapak untuk memastikan kita sekeluarga aman, Pak.”
Kota
Mata Air memang memiliki banyak mata air di sudut-sudut wilayahnya. Tak
terkecuali yang
ada di tengah kota, yang keberadaannya juga memprihatinkan dua tahun terakhir ini.
Hampir mati.
Kota
yang dikelilingi gunung ini memiliki udara yang sejuk dan segar. Pantas jika
kota yang indah ini diproyeksikan sebagai kota wisata pada masa lalu. Kini kota itu telah menjelma sebuah
kota dengan penduduk yang padat. Bangunan-bangunan
banyak bermunculan. Ruang terbuka semakin sempit. Dampaknya pun
ada yang kehilangan tempat kelana. Ia adalah air.
***
Jagat
dunia maya akhirnya diramaikan
oleh munculnya manusia gorong-gorong. Sebutan itu muncul tanpa sengaja saat
seorang wisatawan di Kota Mata Air mengunggah videonya tentang aksi manusia
gorong-gorong. Dari video yang berdurasi tak lebih dari satu menit itulah
keberadaan manusia gorong-gorong dari Kota Mata Air banyak diperbincangkan di
Negeri Lemah Subur. Tak jarang pula, semenjak viralnya video tentang manusia
gorong-gorong itu, Kota Mata Air banyak didatangi oleh orang. Kebanyakan dari
mereka justru datang sebab rasa penasarannya pada orang yang mampu menyelam selama
lima belas menit dalam gorong-gorong.
Hari
itu hujan
lebat. Penduduk asli Kota Mata Air
sudah mempersiapkan diri. Memang mereka semua sudah banyak belajar dari
kejadian demi kejadian saat hujan lebat dua tahun terakhir ini. Tidak bisa dipungkiri pula, semua penduduk
Kota Mata Air menggantungkan diri pada bantuan dari manusia gorong-gorong. Tapi
mereka sendiri juga mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa saja
terjadi jika air itu masuk ke dalam rumahnya.
Lagi-lagi
jagat media sosial hari itu ramai mengangkat berita tentang Kota Mata Air. Kali
ini bukan tentang sosok manusia gorong-gorong yang masih viral beberapa sejak waktu
lalu. Meski masih berkaitan dengan manusia gorong-gorong, tapi jagat dunia maya
itu justru ramai dengan protes dari penduduk Kota Mata Air. Mereka semua secara
terang-terangan menolak kedatangan para wisatawan yang akan berkunjung ke Kota
Mata Air.
Mereka sangat marah jika
mendapati orang-orang
yang berkunjung ke Kota Mata Air justru hanya
ingin
melihat manusia gorong-gorong beraksi. Bagi penduduk Kota Mata Air, ini sebuah perbuatan yang
tak berperikemanusiaan. Sebab mereka justru ingin melihat kota tecintanya
digenangi air lalu manusia gorong-gorong beraksi membersihkan gorong-gorong
yang tersumbat.
***
“Jangan
lupa, Pak, nanti malam manusia
gorong-gorong muncul di acara
sebuah stasiun televisi.”
“Kok
bisa Legowo diundang ke sana?”
“Iyalah, Pak,
sejak beraksi menyelam dalam gorong-gorong, ia menjadi viral di dunia maya.”
“Oalah, jadi begitu.”
“Nanti
malam kita nonton ya, Pak. Semoga tidak turun hujan.”
“Kalau hujan jangan nonton televisi, Buk. Kita harus berkemas-kemas
barang supaya aman dari air.”
“Wah … kalau hari ini hujan lebat,
kita semua akan kembali terancam, Pak. Orang yang biasanya menyurutkan air dan menjadikan
gorong-gorong lancar dialirinya, sedang
diundang
ke sebuah acara televisi.”
Mendengar
obrolan dari bapak dan ibuku sore itu, aku justru ketakutan sendiri. Aku tak
bisa membayangkan jika malam ini benar-benar hujan lebat. Bukan takut
rumah-rumah di Kota Mata Air
akan tenggelam dan penghuninya kedinginan, menggigil sepanjang malam dengan
sarung membungkus tubuhnya. Bukan itu, aku jauh lebih takut membayangkan
perasaan yang melanda hati seorang manusia gorong-gorong, yang tak lain adalah Pakde Legowo.
Sebelum
orang-orang tahu kalau Pakde Legowo bisa menahan napas dalam air selama lima
belas menit, aku sudah tahu semuanya.
Pakde Legowo pun sebenarnya tak pernah menganggap itu sebuah keistimewaan. Tapi
karena ramai diperbincangkan oleh orang-orang di dunia maya, akhirnya Pakde Legowo menyadari kemampuannya itu tidak
dimiliki sembarang orang.
“Kamu
tahu sendiri kan, Yu, Kalau aku sangat mencintai
Kota Mata Air ini,”
ucap Pakde Legowo saat memastikan mau menerima undangan di acara sebuah
stasiun televisi malam ini. Awalnya memang menolak,
tapi aku bilang kalau ini juga kesempatannya untuk menyampaikan pesan kepada seluruh warga di Negeri
Lemah Subur.
“Sudahlah, berangkat saja, Pakde. Bukan untuk ketenaranmu. Tapi
untuk pesan-pesanmu pada saudara kita, seluruh
warga Negeri Lemah Subur.”
***
“Mas
Wahyu, Pakdemu ada?”
“Ada, Pak. Saya panggilkan dulu. Silakan
duduk.”
Sore
itu tamu dari ibu kota datang menjemput Pakde Legowo. Mereka adalah kru
penjemputan dari acara televisi yang mengundangnya.
“Yu,
berangkat dulu ya.”
“Iya, Pakde.”
Tepat
saat rombongan berangkat naik mobil menuju bandara, langit di Kota Mata Air
mendadak gelap. Angin berembus
lebih kencang dari sebelumnya. Rintik
hujan mulai turun. Ini semua adalah tanda-tanda akan terjadi hujan lebat. Kota
Mata Air bisa dipastikan akan tenggelam saat hujan lebat, lalu tidak ada yang membersihkan gorong-gorongnya. Iya, apalagi Pakde Legowo sedang menghadiri undangan
di sebuah acara televisi.
***
Di
tengah perjalanan menuju bandara, manusia
gorong-gorong itu hanya diam saja. Kalaupun menimpali obrolan, hanya sekenanya. Terlintas dalam benaknya kalau ini
bukan tujuan hidupnya. Membayangkan ia akan muncul di layar kaca lalu dikenal
banyak orang dari seluruh wilayah Negeri Lemah Subur. Semua itu membuatnya
menjadi ragu untuk melanjutkan keputusannya menerima tawaran di sebuah acara televisi. Tapi sudah
telanjur. Ia sudah berangkat menuju ibu kota.
“Sebenarnya
tujuan utama acara ini apa ya, Mas?”
tanya manusia gorong-gorong itu pada orang yang duduk di sebelahnya. Memang
tampak kaget awalnya orang itu. Tapi ia berusaha menjawabnya dengan jawaban diplomatis.
Jawaban yang justru
membuatnya semakin ragu untuk melanjutkan perjalanan ke ibu kota.
“Kenapa, Boy?”
“Macet di depan.”
“Sebentar
lagi pintu masuk tol kan?”
“Iya, Mas. Justru banyak yang masuk tol
makanya macet. Tapi ini tidak seperti biasa, macetnya
parah.”
“Jangan-jangan
banjir?”
“Kemungkinan
iya, Mas. Hujannya lebat begini
soalnya.”
Tiba-tiba
saja di tengah obrolan kedua kru acara televisi itu, Pakde Legowo turun dari
mobil. Ia berlari menembus hujan yang turun sangat lebat, menyelip di antara mobil-mobil yang terjebak macet. Ia masuk ke dalam sebuah gorong-gorong
yang ada di sisi jalan. Rupanya gorong-gorong
itu buntu sehingga air
tumpah ke ruas jalan dan menjadikannya macet.
“Tolong... Tolong... Tolong!”
Suara teriakan itu muncul dari pengendara mobil merah yang
ada di sisi lubang gorong-gorong, tempat Pakde Legowo masuk. Nampak sekali ia ketakutan. Sebab aliran air dalam gorong-gorong itu
sangat deras.
Semua kru televisi yang menjemput Pakde Legowo ikut
turun dari mobil, berlari menyusul. Mereka berdiri di mulut gorong-gorong
tempat Pakde Legowo menyelam. Aneh, tidak biasanya
manusia gorong-gorong yang sedang menjadi
perbincangan banyak orang itu akan menyelam dalam waktu lama. Hampir
setengah jam berlalu, yang sedang ditunggu
tak juga keluar dari gorong-gorong.
“Oh Tuhan … jangan-jangan ia justru hanyut ikut arus air yang
deras setelah sampah-sampah yang menyumbat gorong-gorong itu diambilnya,” ratap seorang kru televisi. []
A. Muhaimin D.S , lahir di
Nganjuk (Kota Angin)
Seorang penikmat
cerita dan penyuka perjalanan. Menulis puisi, cerpen, juga resensi.
Rujukan:
Lukisan Nevermore after Gauguin, Ugo Untoro - artbasel.com
1 komentar untuk "Manusia Gorong-gorong"